Banda Aceh – Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB Kodrat), MS Kaban mengharapkan olahraga tarung derajat dapat berkembang luas dan diminati oleh para pemuda -pemudi di Aceh.
“Selain itu, saya menaruh harapan besar kepada atlit-atlit tarung derajat Aceh mampu berprestasi di di tingkat nasional dan meraih medali di PON XVIII di Kalimantan Timur, Juli mendatang,” ujarnya ketika melantik Pengurus Daerah (Pengda) Kodrat Aceh periode 2007-2011, Rabu (23/1) malam di Hotel Hermes Palace.
Kaban mengatakan, untuk mengembangkan olahrga ini dan mencetak atlit berprestasi harus adanya pembinaan yang serius dari pengurus. Karena itu dilakukan konslidasi pengurus Kodrat Aceh yang baru terbentuk ini.
Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, M Nazar selaku Wakil Ketua Umum KONI Aceh, menginginkan cabang tarung derajat harus juga menjadi andalan Aceh di PON dalam meraih medali. “Lakukan pembinaan atlet secara baik dan serius guna mecapai tujuan tersebut,’ pintanya.
Ia menambhkan, selain sebagai cabang olahraga prestasi, tarung derajat sama seperti cabang bela diri lainnya memiliki manfaat bagi generasi muda sebagai alat membela diri, bukan sebaliknya dijadikan untuk penindasan dan kekerasan.
Ketua Umum Pengda Kodrat Aceh Muhammad Saleh menyebutkan, kodrat Aceh telah meloloskan tujuh atlet ke PON mendatang. Saat ini para atlet terus dibina secara serius. “Kami bertekad tarung derajat meraih medali di PON,” katanya.
Keculi itu, dalam kepengurusan ini akan melakukan konsilidasi pengurus, dan saat ini semua kabupaten/kota terbentuk sudah terbentuk pengurus. Juga mengembang tempat-tempat latihan di seluruh Aceh sehingga olahraga ini makin berkembang.
Kepengurusan Kodrat Aceh periode 2007-2011, Ketua Umum, Muhammad Saleh, dibantu tiga wakil ketua, Sekretaris Alfian Zuhri S.Sos, Bendahara Ihsanuddin SE MM. Kepengurusan ini dilengkapi bidang Pembinaan Prestasi, Organisasi, Pendidikan, latihan dan perlengkapan, Humas, Perwasitan dan pertandingan.(Sudirman Mansyur)
Thursday, January 24, 2008
Pemko Bantu Pegobatan Revi
Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh membantu sepenuhnya pengobatan dan penanganan medis terhadap Revi Auzal (13) yang mengalami lumpuh selama satu setengah tahun.
Kejelasan Pemko membantu sepenuhnya, setelah Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal membejuk Revi di tempat tinggalnya di shelter 044, barak Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kamis (24/1) siang.
Revi siang kemarin langsung diboyong ke Rumah Sakit Meuraxa untuk mendapatkan penanganan medis dan pengobatan secara serius. “Biaya pengobatan, penanganan medisnya serta kebutuhan Revi sepenuhnya ditanggung Pemerintah Kota Banda Aceh,” kata Illiza.
Kecuali itu, Pemko juga membantu bantuan makanan, pakaian, selimut untuk R dan Ayahnya Asnawi. Serta membantu barang dagangan pengisi kedai kecil milik Asnawi yang selama ini menjadi tumpuan mendapatkan rezeki untuk kebutuihan hidup sehari-hari.
Iliza menyebutkan, Revi harus dirawat di RS Meuraxa, termasuk Asnawi (44) ayah Revi yang juga kurang sehat dan harus ditangani secara secara medis. Biaya perawatan dan kebutuhan hidup keluarga fakir miskin korban tsunami ini sepenuhnya ditanggung Pemerintah Kota Banda Aceh dan dari dana yang bersumber dari Askeskin.
Ia menjelaskan, penanagan perawana dan pengobatan membutuhkan proses waktu lama, sehingga Revi tetap harus dirawat di RS Meuraxa. “Kita tetap berusaha membantu, agar anak ini bisa sembuh, sehingga bisa normal kembali,”ujarnya.
Dalam kunjungan itu, juga hadir Kadis Kesehatan Banda Aceh, Dr Media Yulizar, Kepala RS Meuraxa Dr Dewi Lailawati, Ketua PKK Banda Aceh Ir Nursanti Mawardy Nurdin, Kepala BPMKS Drs Purnama Karya, sejumlah dokter dan pejabat Pemko.
Revi Auzal remaja berusia 13 tahun kini hanya bisa terbaring lunglai di atas tikar, selama satu setengah tahun di sebuah shelter (rumah barak bongkar pasang) nomor 44 hunian smentara (Huntara) pengungsi korban tsunami, Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya.
Praktis Revi bukan hanya tidak bisa lagi bermain bersama temannya, ia pun tidak bisa sekolah lagi. Badannya kurus dan kaki mengecil, bagai kulit membungkus tulang hanya ditemani ayahnya, Asnawi (44).
.
Nasriah, ibunya Revi meninggal dalam bencana tsunami tiga tahun silam, saat keluaraga ini tinggal di rumah kontrakan di Gampong Punge Blangcut, sebelum tsunami datang.
“Anak saya ini sudah 1,5 tahun hanya terbaring lunglai. Saya telah berupaya membawa berobat ke rumah Sakit Umum Zainal Abidin, dan berobat kampung sampai ke Aceh Selatan, belum ada kesembuhan “ ungkap Asnawi keluarga fakir miskin dengan nada yang serak..
Menurut Kadis Kesehatan, Dr Media Yulizar mengatakan, selama ini dilakukan perobatan halan dan terapi kepada Revi “Dokter bilang, anak saya terkena penyakit prastilia semacam penyakit penyempitan saraf di otak, sehingga mengakibatkan kelumpuhan. Namun dokter menyarankan berobat terapi,” sebut Asnawi. (sud)
Kejelasan Pemko membantu sepenuhnya, setelah Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal membejuk Revi di tempat tinggalnya di shelter 044, barak Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kamis (24/1) siang.
Revi siang kemarin langsung diboyong ke Rumah Sakit Meuraxa untuk mendapatkan penanganan medis dan pengobatan secara serius. “Biaya pengobatan, penanganan medisnya serta kebutuhan Revi sepenuhnya ditanggung Pemerintah Kota Banda Aceh,” kata Illiza.
Kecuali itu, Pemko juga membantu bantuan makanan, pakaian, selimut untuk R dan Ayahnya Asnawi. Serta membantu barang dagangan pengisi kedai kecil milik Asnawi yang selama ini menjadi tumpuan mendapatkan rezeki untuk kebutuihan hidup sehari-hari.
Iliza menyebutkan, Revi harus dirawat di RS Meuraxa, termasuk Asnawi (44) ayah Revi yang juga kurang sehat dan harus ditangani secara secara medis. Biaya perawatan dan kebutuhan hidup keluarga fakir miskin korban tsunami ini sepenuhnya ditanggung Pemerintah Kota Banda Aceh dan dari dana yang bersumber dari Askeskin.
Ia menjelaskan, penanagan perawana dan pengobatan membutuhkan proses waktu lama, sehingga Revi tetap harus dirawat di RS Meuraxa. “Kita tetap berusaha membantu, agar anak ini bisa sembuh, sehingga bisa normal kembali,”ujarnya.
Dalam kunjungan itu, juga hadir Kadis Kesehatan Banda Aceh, Dr Media Yulizar, Kepala RS Meuraxa Dr Dewi Lailawati, Ketua PKK Banda Aceh Ir Nursanti Mawardy Nurdin, Kepala BPMKS Drs Purnama Karya, sejumlah dokter dan pejabat Pemko.
Revi Auzal remaja berusia 13 tahun kini hanya bisa terbaring lunglai di atas tikar, selama satu setengah tahun di sebuah shelter (rumah barak bongkar pasang) nomor 44 hunian smentara (Huntara) pengungsi korban tsunami, Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya.
Praktis Revi bukan hanya tidak bisa lagi bermain bersama temannya, ia pun tidak bisa sekolah lagi. Badannya kurus dan kaki mengecil, bagai kulit membungkus tulang hanya ditemani ayahnya, Asnawi (44).
.
Nasriah, ibunya Revi meninggal dalam bencana tsunami tiga tahun silam, saat keluaraga ini tinggal di rumah kontrakan di Gampong Punge Blangcut, sebelum tsunami datang.
“Anak saya ini sudah 1,5 tahun hanya terbaring lunglai. Saya telah berupaya membawa berobat ke rumah Sakit Umum Zainal Abidin, dan berobat kampung sampai ke Aceh Selatan, belum ada kesembuhan “ ungkap Asnawi keluarga fakir miskin dengan nada yang serak..
Menurut Kadis Kesehatan, Dr Media Yulizar mengatakan, selama ini dilakukan perobatan halan dan terapi kepada Revi “Dokter bilang, anak saya terkena penyakit prastilia semacam penyakit penyempitan saraf di otak, sehingga mengakibatkan kelumpuhan. Namun dokter menyarankan berobat terapi,” sebut Asnawi. (sud)
Subscribe to:
Comments (Atom)