BANDA ACEH – Panti Asuhan Nirmala di Gampong Lambhuk membutuhkan bus sekolah khusus mengantar dan jemput, karena lokasi sekolah dengan panti tempat tinggal Anak-anak yatim piatu tersebut sangat jauh.
Ketua Komisi D yang membidangi Pendidikan DPRK Banda Aceh, Ir Muhklis Japar kepada Dirman Daily ini kemarin mengatakan, panti asuhan tersebut sangat membutuhkan bus sekolah, mengingat banyak anak-anak di panti itu yang sekolahnya jauh, terutama bagi siswa SMK.
Muhklis menyebutkan, sebelumnya SMK I berlokasi di Jalan Nyak Makam tidak jauh dari panti, namun sekarang SMK tersebut sudah pindah ke Lhong Raya di depan stadion Harapan Bangsa yang jarak sekitar tujuh kilo meter dari panti. Bagi anak panti yang sekolah di SMK tersebut sungguh jarak yang jauh.
Oleh karena itu, anak-anak Panti Asuhan Nirmala yang bersekolah di SMK sangat membutuhkan adanya bus sekolah khusus antar dan jemput yang disediakan pemerintah. “Bus sekolah perlu disediakan guna membantu anak-anak mengikuti kegiatan belajar di SMK itu. Ada sekitar 15 anak panti itu yang sekolah di SMK ,” jelas politisi PBR ini.
Ia meminta Pemerintah Kota Banda Aceh untuk segera menyediakan bus sekolah bagi panti tersebut, sehingga anak-anak di panti tersebut dalam mengikuti kegiatan berlajar bisa berjalan dengan lancar.
“Bus yang disediakan pemerintah nanti bukan hanya berfungsi untuk antar jemput siswa SMK, akan tetapi juga bisa digunakan anak-anak panti tersebut yang sekolah di berbagai tempat lainnya,” pungkasnya. (sud)
Saturday, October 25, 2008
MCK Kantor Geuchik Tak Berfungsi
BANDA ACEH – Fasilitas kamar mandi, cuci dan kakus (MCK) di Kantor Geuchik (kepala desa-red) di Gampong Lam Ara dan Gampong Peujerat, Kecamatan Meuraxa tidak berfungsi. Akibatnya sedikit menganggu aktivitas pegawai di kantor tersebut.
Bahkan air bersih PDAM dan listrik belum masuk ke Kantor Geuchik Gampong (desa-red) Lam Ara. Hal ini sangat menghambat kinerja pegawai dalam menjalankan tugas pelayanan terhadap warga gampong.
Wakil Ketua Komisi A membidangi Pemrintahan DPRK Banda Aceh, Surya Mutiara kepada Dirman Daily, Jumat (24/10) menyatakan keprihatinannya karena masih adanya kantor geuchik yang malayani langsung masyarakat belum berfungsinya fasilitas MCK dan belum memiliki air bersih serta listrik.
Surya menyesalkan pembangunan dua kantor geuchik yang baru saja rampung dibangun dari dana APBK 2007, namun tidak sekaligus difungsikannya fasilitas MCK, listrik dan air bersih.
“Tinjauan kami dari kelompok kerja (Pokja) A ke dua kantor itu, hari ini (kemarin-red) perampungan pembangunan kantor itu tidak disertai pembuatan MCK, air bersih dan listrik. Padahal dana pembangunan kantor tersebut senilai Rp90 sudah ingklud dengan pembuatan MCK, pengadaan air bersih dan listrik,” jelas politisi PKS ini.(sud)
Bahkan air bersih PDAM dan listrik belum masuk ke Kantor Geuchik Gampong (desa-red) Lam Ara. Hal ini sangat menghambat kinerja pegawai dalam menjalankan tugas pelayanan terhadap warga gampong.
Wakil Ketua Komisi A membidangi Pemrintahan DPRK Banda Aceh, Surya Mutiara kepada Dirman Daily, Jumat (24/10) menyatakan keprihatinannya karena masih adanya kantor geuchik yang malayani langsung masyarakat belum berfungsinya fasilitas MCK dan belum memiliki air bersih serta listrik.
Surya menyesalkan pembangunan dua kantor geuchik yang baru saja rampung dibangun dari dana APBK 2007, namun tidak sekaligus difungsikannya fasilitas MCK, listrik dan air bersih.
“Tinjauan kami dari kelompok kerja (Pokja) A ke dua kantor itu, hari ini (kemarin-red) perampungan pembangunan kantor itu tidak disertai pembuatan MCK, air bersih dan listrik. Padahal dana pembangunan kantor tersebut senilai Rp90 sudah ingklud dengan pembuatan MCK, pengadaan air bersih dan listrik,” jelas politisi PKS ini.(sud)
Thursday, October 23, 2008
Tender Obat Gagal
BANDA ACEH—Pengadaan obat-abatan untuk kebutuhan Puskesmas yang dananya bersumber dari APBK 2007 Kota banda Aceh gagal ditender. Pasalnya tidak ada peserta yang ikut saat dilakukan tender oleh Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.
Akibat gagal tender tersebut, semua Puskesmas tidak mendapatkan suplai obat-obatan untuk kebutuhan pasien pada tahun 2007, sehingga berdampak buruknya pelayanan kesehatan di setiap Puskesmas kepada masyarakat.
Seorang panitia anggaran DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar ST kepada Koran ini kemarin menyebutkan, hasil tinjauan tim kelompok kerja dewan kemarin ke Dinas Kesehatan menemukan belum terealisasinya pengadaan obat-obatan untuk Puskesmas di Dinas Kesehatan.
Farid menjelaskan, berdasarkan keterangan pihak Dinas Kesehatan, gagalnya tender pongadaan obat karena tidak ada peserta. Hal ini disebabkan harga obat yang ditetapkan oleh Menkes di bawah harga pasar, sehingga tidak ada peserta yang ikut.
“Misalnya, harga yang ditetapkan Rp30 ribu, namun harga di pasar Rp20 ribu, jadi mana ada peserta yang mau ikut tender,” kata anggota dewan yang aktif dan kreatif ini memberi contoh.
Ia menyebutkan, gagalnya tender obat ini berdampak buruk bagi pelayanan kesehatan di Puskesmas kepada masyarakat, karena sudah pasti di setiap Puskesmas kekurangan obat.
Sekretaris Komisi C yang membidangi Pembangunan dan tergabung dalam kelompok kerja (Pokja) dewan ini, menambahkan dalam tinjauan ke lapangan, juga ditemukan kejangalan dari kinerja dinas tersebut, diantaranya tidak bisa menunjukkan dokumen anggaran dan kontrak kerja.
Kecuali itu, sebutnya, permasalahan yang lain yang ditemukan yaitu, pembangunan rumah kepala dinas di Kelurahan Beurawe yang belum yang tidak berkualitas dan sampai saat ini belum difungsikan, sehingga pengadaan rumah yang menggunakan dana APBK 2007 menjadi sia-sia.
Bukan hanya itu, tambahnya, Polindes di gampong Alue Dayah Teungoh, Kecamatan Meuraxa belum maksimal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat.
“Itu hanya beberapa contoh yang ditemukan, belum semua proyek dan kinerja dinas tersebut kita tinjau. Untuk itu, tinjauan ke lapangan dipending dulu dan akan dilanjutkan untuk proyek lainnya di dinas itu,” ujar politisi muda PKS ini seraya menyebutkan tinjau ke lapangan di lakukan dalam rangka akan dilakukan perhitungan nota keuangan APBK Kota Banda Aceh 2007.
Akibat gagal tender tersebut, semua Puskesmas tidak mendapatkan suplai obat-obatan untuk kebutuhan pasien pada tahun 2007, sehingga berdampak buruknya pelayanan kesehatan di setiap Puskesmas kepada masyarakat.
Seorang panitia anggaran DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar ST kepada Koran ini kemarin menyebutkan, hasil tinjauan tim kelompok kerja dewan kemarin ke Dinas Kesehatan menemukan belum terealisasinya pengadaan obat-obatan untuk Puskesmas di Dinas Kesehatan.
Farid menjelaskan, berdasarkan keterangan pihak Dinas Kesehatan, gagalnya tender pongadaan obat karena tidak ada peserta. Hal ini disebabkan harga obat yang ditetapkan oleh Menkes di bawah harga pasar, sehingga tidak ada peserta yang ikut.
“Misalnya, harga yang ditetapkan Rp30 ribu, namun harga di pasar Rp20 ribu, jadi mana ada peserta yang mau ikut tender,” kata anggota dewan yang aktif dan kreatif ini memberi contoh.
Ia menyebutkan, gagalnya tender obat ini berdampak buruk bagi pelayanan kesehatan di Puskesmas kepada masyarakat, karena sudah pasti di setiap Puskesmas kekurangan obat.
Sekretaris Komisi C yang membidangi Pembangunan dan tergabung dalam kelompok kerja (Pokja) dewan ini, menambahkan dalam tinjauan ke lapangan, juga ditemukan kejangalan dari kinerja dinas tersebut, diantaranya tidak bisa menunjukkan dokumen anggaran dan kontrak kerja.
Kecuali itu, sebutnya, permasalahan yang lain yang ditemukan yaitu, pembangunan rumah kepala dinas di Kelurahan Beurawe yang belum yang tidak berkualitas dan sampai saat ini belum difungsikan, sehingga pengadaan rumah yang menggunakan dana APBK 2007 menjadi sia-sia.
Bukan hanya itu, tambahnya, Polindes di gampong Alue Dayah Teungoh, Kecamatan Meuraxa belum maksimal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat.
“Itu hanya beberapa contoh yang ditemukan, belum semua proyek dan kinerja dinas tersebut kita tinjau. Untuk itu, tinjauan ke lapangan dipending dulu dan akan dilanjutkan untuk proyek lainnya di dinas itu,” ujar politisi muda PKS ini seraya menyebutkan tinjau ke lapangan di lakukan dalam rangka akan dilakukan perhitungan nota keuangan APBK Kota Banda Aceh 2007.
Subscribe to:
Comments (Atom)