Wednesday, May 9, 2007

Kasus Kematian Ibu Melahirkan Tetap Terjadi

Banda Aceh –Kasus kematian ibu dan kematian bayi saat proses kelahiran tetap saja terjadi di Kota Banda Aceh. Dalam tahun 2006 ini tercatat 8 ibu meninggal dan 23 bayi meninggal dunia saat melahirkan.

Kasubdin Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Suryati kepada Rakyat Aceh, Kamis ( 3/5) mengatakan, faktor kematian ibu melahirkan lebih disebabkan keterlambatan dalam pemeriksaan saat masa hamil, kerterlambatan keputusan keluarga merujuk tempat bersalin, trasportasi dan pelayanan medis.

Suryati lebih lanjut menjelaskan, akibat faktor tersebut menimbulkan pendarahan berat dan infeksi saat proses melahirkan, sehingga pertolongan medis sudah terlambat menyebakan kematian ibu atau bayi.

Kasus kematian ibu melahirkan dan bayi, umumnya terjadi di daerah –daerah pisisir, hal ini disebabkan selain pengetahuan tentang kesehatan masa hamil, proses persalinan oleh ibu yang melahirkan dan pihak keluaraga di daerah itu, juga ketiadaan dan keterlabatan transportasi untuk merujuk ke tempat persalinan seperti ke rumah sakit, sehingga lambat pertolongan.

Ia mencontohkan suatu kasus kematian ibu melahirkan yang pernah terjadi di suatu daerah pesisir, seorang ibu yang akan melahirkan terlambat dirujuk di rumah sakit. Saat melahirkan terjadi tali pusat melekat tak bisa diputuskan terpaksa dirujuk ke rumah sakit namun terlambat, karena rahim robek terjadilah pendarahan hebat, sehinnga tak tertolong lagi secara medis. Ibu tersebut meninggal dunia.

Diungkapkannya, tingkat angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir tidak bisa diukur perbandingannya tahun ini dengan tahun sebelumnya, karena ada yang tidak semua terdata, sebab ada yang mrujuk tempat swasta yang tidak melapor jika terjadi kasus kematian.

Seperti tahun 2005, sebutnya, angka kematian ibu hampir tidak ada karena NGO juga banyak membantu kesehatan ibu hamil. “Akan tetapi kematian ibu dan bayi baru lahir kita perkirakan tetap saja ada, namun saat itu tidak terdata<’ ujarnya di sela-sela shering pendapat peserta pelatihan advokasi kematian ibu melahirkan dengan anggota DPRK kota Banda Aceh kemarin di gedung dewan.

Katanya, upaya Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh dalam memperkecil angka kematian ibu melahirkan telah membuat program gampong (desa) Siaga ( siap antar jaga) yang sudah dimulai di 17 gampong. “Nantinya diupayakan ada di semua gampong,” katanya.

Gampong Siaga ini membentuk kepedulian masyarakat gampong dalam menangani ibu melahirkan seperti menyiapkan kenderaan (ambulan) sebagai transportasi rujukan, tabungan bersalin (tabulin) dan dana sosial bersalin. “Diharapkan nantinya tidak ada kematian ibu melahirkan,” katanya lagi.

Sementara itu Ketua panitia pelaksana pelatihan advokasi ibu melahirkan, Mukhhlis Japar mengatakan kegiatan ini untuk membangun kepedulian pemerintah, dewan dan masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil dan melahirkan.

Mukhlis yang juga Ketua Komisi D (bidan kesehatan) menyebutkan, dewan tetap memberikan dukungan penuh terhadap kesehatan dengan menyetujui anggaran untuk kebutuhan kesehatan termasuk pelayanan ibu melahirkan di rumah sakit, dalam setiap pembahasan APBD. Dalam APBD 2007 dianggarkan dana sebesar Rp 12 milyar untuk kesehatan.

Sekretaris panitia pelaksana, Drs Hasballah Ajad menjelaskan, kegiatan pelatihan ini diikuti 28 peserta yang umumnya berasal dari organisasi wanita yaitu PKK, APPI, PKBI dan dari unsure Komisi C (bidang pembangunan) dan komisi D (kesehatan).

Hasballah menyebutkan, kegaiatan pelatihan yang berlangsung 1-3 Mai di aula balaikota ini kerjasama Dinkes Banda Aceh dan DPRK yang dibantu oleh NGO dari Amerika Serikat USAID dan HSP.

Sementara itu Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, SE seusai menutup acara pelatihan itu mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh tetap memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan terutama pelayanan terhadap ibu melahirkan di rumah sakit pemerintah.

“Kita harapkan program advokasi ibu melahirkan ini nantinya bisa menunjukkan hasil yang mengimbirakan, sehingga nantinya pelayanan ibu melahirkan akan lebih baik dan tidak ada lagi terjadi kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir,” pintanya.(sud)

No comments: