Banda Aceh – Rumah korban tsunami bantuan suatu NGO yaitu World Vision di Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, yang atapnya terlepas diterbangi angin, dindikasikan semakin membuktikan pembangunan rumah tersebut dibangun asal jadi oleh kontraktor.
“Memang penyebabnya karena angin, itu tidak bisa kita kaji, akan tetapi jika kita bandingkan dengan rumah yang lain juga bantuan NGO dan rumah biasa semnetara tidak apa-apa. Tapi mengapa rumah yang dibangun di Lamjabat bisa cepat dan langsung atapnya lepas oleh angin. Ini bererti kualitas pengerjaan sangat rendah dan asal jadi,” ujar seorang anggota Komisi C (bidang pembangunan) DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar ST menanggapi sering terjadi atap rumah korban tsunami bantuan NGO yang terlepas akibat angin kencang yang masih dalam batas normal kepada Dirman Daily kemarin.
Ia meminta BRR selaku badan yang memiliki otoritas dalam proses rehabilitasi dan rekontruksi di daerah yang terkena bencana gempa dan tsunami ini, untuk meminta kontraktor yang melakukan pergejaan rumah yang atapnya diterpa angin di Lamjabat supaya diperbaiki.
“Dalam hal ini kita minta pihak BRR dan NGO World Vision yang membantu pembangunan rumah korban tsunami di lamjabat untuk memperbaiki rumah warga yang atapnya diterpa angin tersebut,’ pintanya.
Ia tak ingin BRR dan World Vision membiarkan rumah waga tersebut harus warga memperbaiki sendiri. “Kita harus memberikan perhatian kepada warga korban tsunami, karena banyak kondisi ekonominya masih lemah, dari mana dana untuk melakukan perbaikan rumahnya yang rusak,” ujarnya.
Sebutnya, banyak rumah-rumah korban tsunami bantuan NGO dan BRR yang dikerjakan baik oleh kontraktor lokal dan nasional dibuat asal jadi dan belum rampung sudah ditinggalkan, sepeti peumahan di Lamteumen dan Lampoh Daya yang dibuat asal jadi.
Sementara itu, anggota dewan lainnya dari Fraksi PKS menambahkan, banyak sudah kasus rumah bantuan untuk korban tsunami yang selesai dibangun begitu kena angin sedikit atapnya berterbangan, seperti dua bulan sebelumnya sejumlah unit rumah di Peulanggahan dan Lambaro Skep. Ini membuktikan rumah tersebut kualitasnya sangat rendah dan dibuat asal jadi.
Namun sangat disayangkan, sudah terjadi demikian, pihak BRR, NGO atau pihak kontraktor yang mengerjakan rumah tersebut tidak mau memperbaikinya. “Seperti sejumlah unit rumah di Peulanggahan dan lambaro Skep sampai sekarang pihak BRR, NGO maupun kontraktor bersangkutan tidak mempebaikinya, terpaksa pemilik rumah yang memperbaikinya sendiri meski harus berangsur-angsur, karena ketidakmampuan dana yang dimiliki,” katnya.
Sementara itu dua unit rumah milik korban tsunami bantuan NGO World Vision di Lamjabat masing-masing di lorong mesjid dan dan Jalan Pendidikan, Dusun Paya, yang atapnya copot diterbang angin, Senin (18/6) hingga kemarin pemilik rumah harus memperbaikinya sendiri.
Menyangkut rumah untuk korban tsunami yang dibuat asal jadi dan dittinggalkan sebelum rampung oleh kontraktor diakui oleh Kapala BRR Aceh –Nias, Kuntoro Mangkusubroto.
“Rumah yang dibuat asal jadi dan ditinggalkan sebelum selesai dikerjakan sekitar 1700 unit rumah. Ada sekitar tujuh persen kontraktor dari sekian banyaknya kontraktor yang nakal itu. Kontraktor tersebut sudah kita serahkan kepada pihak yang berwajib yaitu polisi dan jaksa untuk diperiksa dan diusut,” ujarnya.
Sebutnya, secara hukum kasus kontraktor nakan bisa diselesaikan (diusut), namun bukan itu yang semata. Akan tetapi yang menyedihkan akibat ulah kontrakto tersebut yang menderita adalah warga koban tsunami, karena tidak merasakan rumah yang layak huni.
Mau tak mau, sebutnya, BRR dan NGO harus memperbaiki rumah yang dibuat asal jadi dan diterlantarkan oleh kontraktor itu. “Berarti kita juga mengalami kerugian dalam pervcepatan pembangunan rumah korban tsunami, karena harus memperbaiki lagi,” katanya. (sud).
Tuesday, June 19, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment