Wednesday, June 27, 2007

Aceh Telah Loloskan Delapan Cabor ke PON

Banda Aceh – Provinsi Aceh telah meloloskan delapan cabang olahraga (Cabor) ke Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII 2008 di Kalimnatan Timur (Kaltim). Ke-delapan Cabor tersebut yaitu, sepakbola, balap sepeda, selam, atletik, angkat besi, senam, softball dan karate.

Sekretaris KONI Provinsi Aceh, Drs Nuzuli MS kepada Dirman Daily, Selasa (26/6) mengungkapkan, Aceh menyertakan 31 Cabor mengikuti babak prakualifikasi untuk meraih tiket ke-PON XVII. Aceh telah meloloskan delapan cabang olahraga dengan 56 atlet ke PON XVII di Kaltim.

Nuzuli menjelaskan, sementara ini sudah 11 Cabor selesai ikut Pra PON yaitu sepakbola, balap sepeda, selam, angkat besi, senam, softball, karate, angkat besi, drumband, golf dan atletik. Hanya cabor drum band gagal lolos ke PON dan golf belum ada kabar. Sedangkan cabang atletik masih akan mengikuti Porwil se-Sumatera di Medan Agustus mendatang

“Untuk mendapatkan tiket ke PON , dari 31 cabor itu ada 24 cabang yang melalui ajang Pra PON dan tujuh cabang melalui Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) se-Sumatera, Agustus mendatang di Medan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, tujuh Cabor yang akan dipertandingkan dalam Porwil nanti yaitu, bulu tangkis, catur, silat, renang, basket, takraw dan atletik. “Dalam cabang atletik , sorang atlet Aceh telah lolos PON hasil kejuaraan nasional karena catatan waktu yang diraih telah melampui limit waktu yang ditentukan PB PASI untuk lolos PON. Dalam Porwil nanti, Aceh masih memiliki kesempatan meloloskan atlet atletik ke PON,” katanya,

Sebutnya, para atlet dari 21 cabang olahraga, termasuk atlet atletik saat ini terus menjalani pemusatan latihan daerah (Pelatda) dan bersiap-siap untuk terjun berlaga dalam ajang Pra PON maupun Porwil, yang akan selesai akhir 2007 ini.

“Bahkan dalam penghujung Juni ini, ada dua cabang olahraga yang sedang mengikuti Pra PON di Jakarta yaitu cabang layar, bola voli dan menembak. Kita harapkan dua cabang ini bisa meloloskan atletnya ke PON,” ungkapnya,

Ia mengatakan, persaiapan atlet cabang olahraga menghadapi Pra PON dan Porwil sudah dimulai sejak tahun lalu dalam program pemusatan latihan daerah yang mendapat dukungan dari BRR.

Ia meminta, cabang yang telah lolos PON dapat terus melanjutkan pembinaan secara serius persiapan menghadapi PON. “Meski sudah lolos PON, belum otomatis akan disertakan di PON nanti. KONI akan melakukan verifikasi dan evaluasi peluang dan potensi cabang tersebut meraih medali di multi even nasional empat tahunan itu,” ujarnya.

“Untuk itulah kita berharap kepada pengurus, pembina, pelatih cabang yang telah lolos lebih serius lagi mempersiapkan atletnya. Begitu juga para atlet yang telah lolos PON supaya lebih giat lagi berlatih, berdisiplin tinggi dan menjaga kesehatan,” pintanya.

Kecuali itu, ia mengharapkan, dengan telah lolosnya sejumlah cabang ke PON, atlet dari cabang lainnya yang akan mengikuti Pra PON dan Porwil lebih termotivasi untuk meraih prestasi serupa meraih tiket lolos PON.

“ Atlet-atlet dari 21 cabang olahraga yang akan mengikuti Pra PON saat makin meningkakan aktivitas latihan. Bahkan, untuk memantapkan persiapan, atlet dari 19 cabang olahraga telah melanjutkan pemusatan latihan ke Pulau Jawa yaitu di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Hanya Tekwondo yang masih tetap Pelatda di Banda Aceh dan tinju di Takengon

Ditambahkannya, atlet dari 19 Cabor yang melanjutkan Pelatda di luar Aceh itu juga melakukan ujicoba (try-out) dengan atlet-atlet nasional. “Kita harapkan mereka serius, semangat dan disiplin mengikuti Pelatda di luar Aceh, sehingga nantinya mampu meraih prestasi yang diharapkan,” ujarnya. (sud),

Regu Catur Aceh Ditantang Lolos PON

Banda Aceh – KONI Provinsi Aceh menantang para pecatur Aceh yang dipersiapkan ke-Porwil VII se-Sumatera, Agustus mendatang di Medan, untuk bisa meraih tiket lolos ke PON XVII 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim).

Sekretaris KONI Aceh, Drs Nuzuli MS kepada Dirman Daily, Rabu (27/6) mengatakan, dalam Porwil nanti dipertandingkan tujuh cabang olahraga (Cabor) yaitu Bulutangkis, Atletik, Basket, Silat, Renang, Takraw dan Catur.

Nuzuli menyebutkan, dari tujuh cabang tersebut tiga cabang yang belum pernah berhasil lolos ke-PON yaitu catur, renang dan takraw. “Kita berharap semua cabang itu bisa meraih tiket ke PON dengan prestasi yang memuaskan,” katanya.

“Kita minta regu catur Aceh bisa lolos dan sukses di Porwil dan lolos ke PON, kalau bisa lolos, merupakan yang pertama dan membanggakan, karena kita juga bisa menghadirkan cabang olahraga pikir di arena multi even empat tahunan tingkat nasional tersebut,’ ujarnya.

Sebutnya, satu kebanggaan telah dicapai Aceh dengan telah lolosnya satu cabang bergengsi yaitu sepakbola ke PON XVII kaltim, sehingga kontinegen Aceh pada PON mendatang dilengkapi tim sepakbola. “Kita berharap ada regu catur Aceh sebagai cabang olah pikir di PON nanti,” katanya lagi.

Katanya, untuk lolos PON kali ini, merupakan kesempatan dan peluang besar bagi regu catur Aceh, karena diketahui regu catur Aceh mempersiapkan pecatur yang telah punya banyak pengalaman tanding tingkat nasional dan semuanya telah memiliki gelar master nasional (MN).

“Kalau pada babak prakualifikasi PON atau Porwil sebelumnya, tidak semua pecatur dalam regu catur Aceh memiliki gelar MN, masih minim pengalaman dan prestasi. Sekarang lah saatnya kita tantang regu catur Aceh harus bisa lolos ke PON Kaltim,” ujarnya seraya berharap juga cabang renang dan takraw bisa lolos juga ke PON.

Nuzuli menambahkan, jika regu catur Aceh bisa lolos PON, cabang olahraga catur Aceh dianggap sudah berprestasi, kalau gagal lolos ke PON meski selama ini telah banyak pecatur Aceh yang meraih prestasi di berbagai even regional maupun kejuaraan nasional, masih belum bisa dikatakan berhasil dan berprestasi.

Sementara itu, Ketua Umum Percasi Aceh Ir Ruslan Abdulgani melakukan pertemuan langsung dan dialog dengan atlet regu catur Aceh belum lama ini yang dipersiapkan ke Porwil yaitu Master Nasional (MN) Irwandi, MN Ahmad Muslim, MN Pribowo dan Master Percasi ( MP) Zulkhairi. Sedangkan dua atlet lagi selama ini mempersiapkan diri di Jakarta yaitu MN Khairilnardi dan MN Hendrik FS.

Dalam pertemuan dengan atlet catur yang sedang menjalani pemusatan latihan daerah (Pelatda) di Banda Aceh, Ketua Umum Percasi Aceh itu memberikan dorongan semangat kepada atlet untuk selalu memiliki semangat, disipilin dan kekompakan dalam menjalani program latihan di Pelatda maupun saat bertanding di Porwil nanti, sehingga membuahkan prestasi maksimal yang diharapkan.

Para pecatur juga menyampaikan segala kendala dan keluhannya selama Pelatda, juga strategi dalam berlatih, bertanding di Porwil nanti dan peluang yang dimiliki. “Kita harap regu catur Aceh bisa lolos ke PON kali ini,” ujar Ruslan.(sud)

Syaril Ramdahan Pastikan Diri Juara Catur Yunior

Banda Aceh – Pecatur yunior asal Lhokseumawe, Syahril Ramadhan pastikan diri tampil sebagai juara dalam kejuaraan catur yunior tingkat SMA se-Aceh memperebutkan piala bergilir Gubernur Aceh, yang digelar di aula SMK Negeri 2 Banda Aceh.

Syahril memastikan dirinya tampil sebagai juara, setelah di babak ke-lima, Rabu (27/6) petang kemarin, telah mengumpulkan macth poin (MP) lima dari enam babak yang dipertandingkan yang menggunakan pertandingan sistim swiss enam babak.

Dibabak ke-lima yang berakhir kemarin, siswa SMA Negeri 3 Lhokseumawe tersebut mengalahkan M Feri dari Gipsi Catur Club (GCC), Sabang. Dengan kemenangan itu, ia mengumpulkan poin 5.

Ia tak tergoyahkan lagi sebagai juara, meski masih menyisakan satu kali pertandingan lagi di babak ke-enam, pagi ini. Apapun hasilnya, kalah, remis apalagi menang, tetap juara karena pecatur yunior itu telah unggul progressive skor dari peserta lainnya.

Manejer Tim Catur Yunior Kota Lhokseumawe, Ikhsan Hasibuan kepada Rakyat Aceh kemarin mengatakan, dalam kejuaraan yunior yang diprakarsai oleh lembaga pendidikan LP3KI itu, Lhokseumawe menerjunkan tujuh pecatur putra dan seorang pecatur putri.

“Pecatur kita telah bermain penuh semangat dan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki, hingga babak ke-lima mampu mengatasi semua lawan-lawannya dan memastikan diri sebagai juara,” ungkapnya.(sud)

Friday, June 22, 2007

Pelatda Catur Aceh Diterangi Lilin

Banda Aceh – Pemusatan latihan daerah (Pelatda) atlet catur yang dipersiapkan menghadapi pekan olahraga wilayah (Porwil) di Medan Agustus mendatang, terpaksa harus menjalani latihan di malam hari dengan menggunakan penerang lilin, dalam masa adanya pemadaman listrik 24 jam secara bergantian dari PT PLN Wilayah I Aceh.

“Meski atlet menjalani jadwal latihan di malam hari akan tetapi tanpa penerangan listrik dan harus menggunakan lilin, tidak mengurangi semangat latihan mereka, Para atlet tetap serius melakukan program latihan,” ujar Ketua Bidang Pembinaan Percasi Aceh, MN Said Hanafiah kepada Rakyat Aceh, kemarin.

Said mengatakan, program latihan persiapan atlet catur Aceh menghadapi Porwil sudah disusun dan harus dijalani atlet secara serius dan disiplin. “Makanya meski jadwal latihan di malam hari listrik mati, latihan tetap jalan meski menggunakan alat penerang lilin,” ujar Said yang juga pecatur kawakan Aceh ini yang bergelar master nasional (MN).

Ia menjelaskan , para pecatur Aceh yang dipersiapkan menghadapi Porwil yaitu MN Irwandi, MN Ahmad Muslim, MN Hendrik FS, MN Khairil Nardi, MN Prabowo dan MP Zulkhairi. Sementara itu, MN Khairilnardi dan MN Hendrik saat ini dan sudah hampir setahun menjalani latihan di Jakarta.

Ia mengungkapkan, empat pecatur lainnya, Ahmad Muslim, Zulkhairi, Irwandi dan Prabowo menjalani Pelatda serius di Banda Aceh sudah hampir satu bulan bertempat di Sekretariat sementara Percasi Aceh di Kelurahan Laksana.

Ungkapnya, para pecatur yang menjalani Pelatda di Banda Aceh digenjot dengan menu latihan yang maksimal dengan jadwal latihan yang ketat dan padat. “Para pecatur harus menjalani latihan yang telah kita susun yaitu pagi, siang dan malam. Kita juga menerapkan disiplin yang tinggi terhadap atlet,” ujarnya.

Disebutkannya, Pelatda itu juga melibatkan sejumlah pecatur tangguh Banda Aceh untuk program latihan latih tanding sebagai kawan berlatih tanding (sparing patner) dan membahas partai bagi atlet yang dipersiapkan ke Porwil, diantaranya yaitu Yusbar, Cut Umar Johan, Arifin dan Enda Yusra.

Sebutnya, Program-program latihan yang harus dijalani atlet diantaranya yaitu latih tanding beberapa sejumlah babak dan mengulas partai dan pertandingan, manganalisis tiori permainan pembukaan (opening) dan strategi permainan lainnya.

Pantauan Rakyat Aceh, para atlet catur yang menjalani jadwal latihan malam meski menggunakan lillin sebagai alat penerang, tampak cukup serius dan semangat berlatih tanding sesama mereka dan membahas problem catur di atas papan.

Secara terpisah Ketua Harian Percasi Aceh, Syarkawi Yuzan SH, mengatakan, para pecatur yang dipersiapkan ke Porwil di Medan sebagai ajang untuk memperebutkan tiket lolos ke PON XVII 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim).

Syarkawi mengungkapkan, para pecatur yang dipersiapkan ke Porwil merupakan pecatur yang memiliki kualitas dan jam terbang yang cukup baik karena telah banyak mengikuti even-even nasional. Semua mereka memiliki gelar bahkan lima pecatur telah menyandang gelar master nasional, sebagian diantaranya masih berusia mudan dan energik.

Apalagi, ungkapnya, dua pecatur muda Aceh MN Hendrik dan Khairil Nardi telah lama berlatih di Jakarta. Di sana mereka juga aktif mengikuti even berkatagori nasional, sehingga banyak menghadapi pecatur-pecatur tangguh Indonesia. Presatsi mereka di selama di sana sudah lumayan bisa mengimbangi ketangguhan sejumlah pecatur nasional di Pulau Jawa yang telah bergelar Master Nasional, Master Ineternational dan Grand Master. “Mereka modal bagi tim kita di Porwil nanti,’ ujarnya.

“Kita harapkan para pecatur yang dipersiapkan ini bersemangat, serius, disiplin berlatih dan kompak menjalani Pelatda, sehingga bisa membuahkan hasil maksimal di Porwil nanti. Karena tantangan di Porwil sangat berat. Akan tetapi kita bertekad, catur Aceh bisa lolos PON,” ujarnya. (sud)

Pelatda Catur Aceh Diterangi Lilin

Banda Aceh – Pemusatan latihan daerah (Pelatda) atlet catur yang dipersiapkan menghadapi pekan olahraga wilayah (Porwil) di Medan Agustus mendatang, terpaksa harus menjalani latihan di malam hari dengan menggunakan penerang lilin, dalam masa adanya pemadaman listrik 24 jam secara bergantian dari PT PLN Wilayah I Aceh.

“Meski atlet menjalani jadwal latihan di malam hari akan tetapi tanpa penerangan listrik dan harus menggunakan lilin, tidak mengurangi semangat latihan mereka, Para atlet tetap serius melakukan program latihan,” ujar Ketua Bidang Pembinaan Percasi Aceh, MN Said Hanafiah kepada Durman Daily kemarin.

Said mengatakan, program latihan persiapan atlet catur Aceh menghadapi Porwil sudah disusun dan harus dijalani atlet secara serius dan disiplin. “Makanya meski jadwal latihan di malam hari listrik mati, latihan tetap jalan meski menggunakan alat penerang lilin,” ujar Said yang juga pecatur kawakan Aceh ini yang bergelar master nasional (MN).

Ia menjelaskan , para pecatur Aceh yang dipersiapkan menghadapi Porwil yaitu MN Irwandi, MN Ahmad Muslim, MN Hendrik FS, MN Khairil Nardi, MN Prabowo dan MP Zulkhairi. Sementara itu, MN Khairilnardi dan MN Hendrik saat ini dan sudah hampir setahun menjalani latihan di Jakarta.

Ia mengungkapkan, empat pecatur lainnya, Ahmad Muslim, Zulkhairi, Irwandi dan Prabowo menjalani Pelatda serius di Banda Aceh sudah hampir satu bulan bertempat di Sekretariat sementara Percasi Aceh di Kelurahan Laksana.

Ungkapnya, para pecatur yang menjalani Pelatda di Banda Aceh digenjot dengan menu latihan yang maksimal dengan jadwal latihan yang ketat dan padat. “Para pecatur harus menjalani latihan yang telah kita susun yaitu pagi, siang dan malam. Kita juga menerapkan disiplin yang tinggi terhadap atlet,” ujarnya.

Disebutkannya, Pelatda itu juga melibatkan sejumlah pecatur tangguh Banda Aceh untuk program latihan latih tanding sebagai kawan berlatih tanding (sparing patner) dan membahas partai bagi atlet yang dipersiapkan ke Porwil, diantaranya yaitu Yusbar, Cut Umar Johan, Arifin dan Enda Yusra.

Sebutnya, Program-program latihan yang harus dijalani atlet diantaranya yaitu latih tanding beberapa sejumlah babak dan mengulas partai dan pertandingan, manganalisis tiori permainan pembukaan (opening) dan strategi permainan lainnya.

Pantauan Rakyat Aceh, para atlet catur yang menjalani jadwal latihan malam meski menggunakan lillin sebagai alat penerang, tampak cukup serius dan semangat berlatih tanding sesama mereka dan membahas problem catur di atas papan.

Secara terpisah Ketua Harian Percasi Aceh, Syarkawi Yuzan SH, mengatakan, para pecatur yang dipersiapkan ke Porwil di Medan sebagai ajang untuk memperebutkan tiket lolos ke PON XVII 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim).

Syarkawi mengungkapkan, para pecatur yang dipersiapkan ke Porwil merupakan pecatur yang memiliki kualitas dan jam terbang yang cukup baik karena telah banyak mengikuti even-even nasional. Semua mereka memiliki gelar bahkan lima pecatur telah menyandang gelar master nasional, sebagian diantaranya masih berusia mudan dan energik.

Apalagi, ungkapnya, dua pecatur muda Aceh MN Hendrik dan Khairil Nardi telah lama berlatih di Jakarta. Di sana mereka juga aktif mengikuti even berkatagori nasional, sehingga banyak menghadapi pecatur-pecatur tangguh Indonesia. Presatsi mereka di selama di sana sudah lumayan bisa mengimbangi ketangguhan sejumlah pecatur nasional di Pulau Jawa yang telah bergelar Master Nasional, Master Ineternational dan Grand Master. “Mereka modal bagi tim kita di Porwil nanti,’ ujarnya.

“Kita harapkan para pecatur yang dipersiapkan ini bersemangat, serius, disiplin berlatih dan kompak menjalani Pelatda, sehingga bisa membuahkan hasil maksimal di Porwil nanti. Karena tantangan di Porwil sangat berat. Akan tetapi kita bertekad, catur Aceh bisa lolos PON,” ujarnya. (sud)

Pelatda Catur Aceh Diterangi Lilin

Banda Aceh – Pemusatan latihan daerah (Pelatda) atlet catur yang dipersiapkan menghadapi pekan olahraga wilayah (Porwil) di Medan Agustus mendatang, terpaksa harus menjalani latihan di malam hari dengan menggunakan penerang lilin, dalam masa adanya pemadaman listrik 24 jam secara bergantian dari PT PLN Wilayah I Aceh.

“Meski atlet menjalani jadwal latihan di malam hari akan tetapi tanpa penerangan listrik dan harus menggunakan lilin, tidak mengurangi semangat latihan mereka, Para atlet tetap serius melakukan program latihan,” ujar Ketua Bidang Pembinaan Percasi Aceh, MN Said Hanafiah kepada Dirman Daily, kemarin.

Said mengatakan, program latihan persiapan atlet catur Aceh menghadapi Porwil sudah disusun dan harus dijalani atlet secara serius dan disiplin. “Makanya meski jadwal latihan di malam hari listrik mati, latihan tetap jalan meski menggunakan alat penerang lilin,” ujar Said yang juga pecatur kawakan Aceh ini yang bergelar master nasional (MN).

Ia menjelaskan , para pecatur Aceh yang dipersiapkan menghadapi Porwil yaitu MN Irwandi, MN Ahmad Muslim, MN Hendrik FS, MN Khairil Nardi, MN Prabowo dan MP Zulkhairi. Sementara itu, MN Khairilnardi dan MN Hendrik saat ini dan sudah hampir setahun menjalani latihan di Jakarta.

Ia mengungkapkan, empat pecatur lainnya, Ahmad Muslim, Zulkhairi, Irwandi dan Prabowo menjalani Pelatda serius di Banda Aceh sudah hampir satu bulan bertempat di Sekretariat sementara Percasi Aceh di Kelurahan Laksana.

Ungkapnya, para pecatur yang menjalani Pelatda di Banda Aceh digenjot dengan menu latihan yang maksimal dengan jadwal latihan yang ketat dan padat. “Para pecatur harus menjalani latihan yang telah kita susun yaitu pagi, siang dan malam. Kita juga menerapkan disiplin yang tinggi terhadap atlet,” ujarnya.

Disebutkannya, Pelatda itu juga melibatkan sejumlah pecatur tangguh Banda Aceh untuk program latihan latih tanding sebagai kawan berlatih tanding (sparing patner) dan membahas partai bagi atlet yang dipersiapkan ke Porwil, diantaranya yaitu Yusbar, Cut Umar Johan, Arifin dan Enda Yusra.

Sebutnya, Program-program latihan yang harus dijalani atlet diantaranya yaitu latih tanding beberapa sejumlah babak dan mengulas partai dan pertandingan, manganalisis tiori permainan pembukaan (opening) dan strategi permainan lainnya.

Pantauan Rakyat Aceh, para atlet catur yang menjalani jadwal latihan malam meski menggunakan lillin sebagai alat penerang, tampak cukup serius dan semangat berlatih tanding sesama mereka dan membahas problem catur di atas papan.

Secara terpisah Ketua Harian Percasi Aceh, Syarkawi Yuzan SH, mengatakan, para pecatur yang dipersiapkan ke Porwil di Medan sebagai ajang untuk memperebutkan tiket lolos ke PON XVII 2008 di Kalimantan Timur (Kaltim).

Syarkawi mengungkapkan, para pecatur yang dipersiapkan ke Porwil merupakan pecatur yang memiliki kualitas dan jam terbang yang cukup baik karena telah banyak mengikuti even-even nasional. Semua mereka memiliki gelar bahkan lima pecatur telah menyandang gelar master nasional, sebagian diantaranya masih berusia mudan dan energik.

Apalagi, ungkapnya, dua pecatur muda Aceh MN Hendrik dan Khairil Nardi telah lama berlatih di Jakarta. Di sana mereka juga aktif mengikuti even berkatagori nasional, sehingga banyak menghadapi pecatur-pecatur tangguh Indonesia. Presatsi mereka di selama di sana sudah lumayan bisa mengimbangi ketangguhan sejumlah pecatur nasional di Pulau Jawa yang telah bergelar Master Nasional, Master Ineternational dan Grand Master. “Mereka modal bagi tim kita di Porwil nanti,’ ujarnya.

“Kita harapkan para pecatur yang dipersiapkan ini bersemangat, serius, disiplin berlatih dan kompak menjalani Pelatda, sehingga bisa membuahkan hasil maksimal di Porwil nanti. Karena tantangan di Porwil sangat berat. Akan tetapi kita bertekad, catur Aceh bisa lolos PON,” ujarnya. (sud)

Tuesday, June 19, 2007

Tak Ada Kasus Kematinan Unggas Mendadak

Banda Aceh – Dalam dua bulan terakhir ini tidak ada lagi terjadi kasus kamatian unggas ternak milik warga secara mendadak seperti ayam, itik dan burung dalam dua bulan terakhir ini. Kondisi tersebut mengindikasikan virus H5N1 alias flu burung tidak berkembang di Banda Aceh.

“Indikasi tidak adanya berkembang virus flu burung menyerang unggas berdasarkan tidak adanya laporan dari warga dan juga tidak ada lagi ditemukan kasus unggas mati mendadak milik warga akhir-akhir ini,”ungkap Kepala Dinas Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Kelautan (P3K) Banda Aceh, Ir Zulkifli Syahbuddin MM melalui Kasi SDM dan Teknologi Drh Merdu kepada Dirman Daly, Selasa (19/6).

Mustafa menyebutkan, dengan keadaan itu berarti angka kematian hewan unggas sudah dapat ditekan tidak terjadi lagi. “Hal ini juga partisipasi masyarakat menjaga kebersihan lingkungan kandang dan upaya kita melakukan penyuluhan, penyemprotan desfektan (pembasmi virus) dan vaksinasi,” ujarnya.

Kendati begitu, sebutnya, waga pemilik unggas jangan lengah, dan tetap terus menerapkan bio scurity (pengamanan hewan) terhadap terhadap ternak unggas peliharaan. “Kita juga tetap perketat bio scurity ini, dengan rutin melakukan vaksinasi avian influenza di semua gampong/kelurahan di 9 kecamatan di Banda Aceh. Dan kegiatan vaksinasi selama ini rutin kita lakukan, sejak Pebruari hingga Mai,” ungkapnya.

Ditambahkannya, penyempotan juga dilakukan semua kandang unggas milik warga sejak Mai lalu dan sekarang sudah selesai. “Ini kita lakukan karena virus H5N1datang dan pergi tidak dapat diketahui,” ujarnya.

Disebutkannya, dalam penyempotan kandang unggas melibatkan warga gampong/kelurahan setempat yang telah dididik oleh Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) Kota Banda Aceh. Tujuannya, aga warga merasa memiliki dan pentingnya kesehatan gampong/kelurahannya, sehingga terhindar dai virus flu burung.

Katanya, dalam memberantas virus flu burung kalau tidak berbasis masyarakat, omong kosong dapat menumpas virus yang dapat mematikan tersebut. “Kami himbau masyarakat yang memiliki unggas peliharaan, harus tetap membersihkan kandang dan jika ayam ditemukan mati mendadak segera melapor dinas terkait yang terdekat,” ujarnya.

Selain itu, ia meminta warga setelah memegang unggas yang sakit jangan lupa mencuci tangan yang benar, bersih dan memakai sabun.(sud)

BRR Harus Perbaiki Rumah yang Diterpa Angin

Banda Aceh – Rumah korban tsunami bantuan suatu NGO yaitu World Vision di Gampong Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, yang atapnya terlepas diterbangi angin, dindikasikan semakin membuktikan pembangunan rumah tersebut dibangun asal jadi oleh kontraktor.

“Memang penyebabnya karena angin, itu tidak bisa kita kaji, akan tetapi jika kita bandingkan dengan rumah yang lain juga bantuan NGO dan rumah biasa semnetara tidak apa-apa. Tapi mengapa rumah yang dibangun di Lamjabat bisa cepat dan langsung atapnya lepas oleh angin. Ini bererti kualitas pengerjaan sangat rendah dan asal jadi,” ujar seorang anggota Komisi C (bidang pembangunan) DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar ST menanggapi sering terjadi atap rumah korban tsunami bantuan NGO yang terlepas akibat angin kencang yang masih dalam batas normal kepada Dirman Daily kemarin.

Ia meminta BRR selaku badan yang memiliki otoritas dalam proses rehabilitasi dan rekontruksi di daerah yang terkena bencana gempa dan tsunami ini, untuk meminta kontraktor yang melakukan pergejaan rumah yang atapnya diterpa angin di Lamjabat supaya diperbaiki.

“Dalam hal ini kita minta pihak BRR dan NGO World Vision yang membantu pembangunan rumah korban tsunami di lamjabat untuk memperbaiki rumah warga yang atapnya diterpa angin tersebut,’ pintanya.

Ia tak ingin BRR dan World Vision membiarkan rumah waga tersebut harus warga memperbaiki sendiri. “Kita harus memberikan perhatian kepada warga korban tsunami, karena banyak kondisi ekonominya masih lemah, dari mana dana untuk melakukan perbaikan rumahnya yang rusak,” ujarnya.

Sebutnya, banyak rumah-rumah korban tsunami bantuan NGO dan BRR yang dikerjakan baik oleh kontraktor lokal dan nasional dibuat asal jadi dan belum rampung sudah ditinggalkan, sepeti peumahan di Lamteumen dan Lampoh Daya yang dibuat asal jadi.

Sementara itu, anggota dewan lainnya dari Fraksi PKS menambahkan, banyak sudah kasus rumah bantuan untuk korban tsunami yang selesai dibangun begitu kena angin sedikit atapnya berterbangan, seperti dua bulan sebelumnya sejumlah unit rumah di Peulanggahan dan Lambaro Skep. Ini membuktikan rumah tersebut kualitasnya sangat rendah dan dibuat asal jadi.

Namun sangat disayangkan, sudah terjadi demikian, pihak BRR, NGO atau pihak kontraktor yang mengerjakan rumah tersebut tidak mau memperbaikinya. “Seperti sejumlah unit rumah di Peulanggahan dan lambaro Skep sampai sekarang pihak BRR, NGO maupun kontraktor bersangkutan tidak mempebaikinya, terpaksa pemilik rumah yang memperbaikinya sendiri meski harus berangsur-angsur, karena ketidakmampuan dana yang dimiliki,” katnya.

Sementara itu dua unit rumah milik korban tsunami bantuan NGO World Vision di Lamjabat masing-masing di lorong mesjid dan dan Jalan Pendidikan, Dusun Paya, yang atapnya copot diterbang angin, Senin (18/6) hingga kemarin pemilik rumah harus memperbaikinya sendiri.

Menyangkut rumah untuk korban tsunami yang dibuat asal jadi dan dittinggalkan sebelum rampung oleh kontraktor diakui oleh Kapala BRR Aceh –Nias, Kuntoro Mangkusubroto.

“Rumah yang dibuat asal jadi dan ditinggalkan sebelum selesai dikerjakan sekitar 1700 unit rumah. Ada sekitar tujuh persen kontraktor dari sekian banyaknya kontraktor yang nakal itu. Kontraktor tersebut sudah kita serahkan kepada pihak yang berwajib yaitu polisi dan jaksa untuk diperiksa dan diusut,” ujarnya.

Sebutnya, secara hukum kasus kontraktor nakan bisa diselesaikan (diusut), namun bukan itu yang semata. Akan tetapi yang menyedihkan akibat ulah kontrakto tersebut yang menderita adalah warga koban tsunami, karena tidak merasakan rumah yang layak huni.

Mau tak mau, sebutnya, BRR dan NGO harus memperbaiki rumah yang dibuat asal jadi dan diterlantarkan oleh kontraktor itu. “Berarti kita juga mengalami kerugian dalam pervcepatan pembangunan rumah korban tsunami, karena harus memperbaiki lagi,” katanya. (sud).

Pemko Serahkan Persoalan Persiraja ke BPK

Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh menyerahkan persoalan penggunaan dana Persiraja semasa manajemen lama kepada BPK untuk dilakukan pengusutan. Manajemen lama sempat berkiprah awal-awal Persiraja mengikuti kompetisi liga sepkbola Indonesia putara pertama.

Sekretaris Umum Persiraja Safwan Yusuf kepada Dirman Daly kemarin mengatakan, persoalan kontrak seorang pemain asing yaitu Kwarteh yang tidak bisa bermain karena terkena aturan Badan Liga Indonesia (BLI), namun pihak manejemen lama telah menyerahkan uang kontrak sebersar Rp 200 juta, sedang diusut BPK.

Safwan mengungkapkan, pengusutan itu, termasuk pembayaran panjar pelatih Riono Asnan sebesar 50 persen atau Rp 200 juta dari nilai kontrak Rp600 juta. “Pemko telah menyerahkan persoalan itu untuk diusut BPK. Pengurus hanya menunggu hasil pengusutan tersebut,” jelasnya.

Menyangkut kontrak Kwarteh dan Riono Asnan, ungkapnya, pihak pengurus Persiraja yang baru dibentuik hasil Musdalub beberapa waktu lalu telah melakukan penelusuran dan pengecekan ke BLI, ternyata tidak dilakukan proses kontrak dan tidak ada bukti proses kontrak, secara tertulis.

“Pembayaran uang panjar kontrak itu dibayar begitu saja, tidak ada proses kontrak dan buktinya. Kita sudah telusuri ke BLI. Jadi sulit mengurusnya ke BLI, uang yang sudah diberikan kepada Kwarteh bisa dikembalikan. Penggunaan dana masa manajemen lama pengusutannya diserahkan kepada BPK, kita tunggu saja hasilnya” ujarnya.

Ditanya pendanaan persiapan Persiaraja mengikuti putaran kedua yang akan digelar Agustustus mendatang?, Safwan mengungkapkan, Pemko Banda Aceh sebagai pemilik tim telah melayangkan surat permohonan bantuan tambahan dana ke DPRK dari anngaran belanja tambahan (ABT) Perubahan APBK 2007.” Surat permohonan telah dilayangkan Walikota Banda Aceh Ir Mawardy Nurdin kepada DPRK,” jelasnya.

“Kalau permohonan penambahan dana tidak bisa diterima atau ditolak oleh DPRK , kita bisa bilang apa-apa, terpaksa Persiraja gagal mengikuti putaran kedua dan bubar,” katanya, seraya mengatakan itulah upaya menyelematkan Persiraja untuk soal pendanaan

Ia menyebutkan, sejak Persiraja dipegang oleh manajemen lama hingga sekarang, untuk biaya segala keperluan mengikuti pertandingan, konsumsi dan gaji pemain telah menghabiskan dana sekitar Rp 8,6 milyar. Sedangkan dana untuk Persiraja yang dialokasikan dari APBD 2007 Rp5 milyar. “Jadi sekarang Persiraja masih terhutang Rp3,6 milyar lagi. Namun penggunaan dana itu sedang diusut BPK,” ungkapnya.

Kendati begitu, ujarnya, persiapan tim ke putaran kedua tetap berjalan. Para pemain sekarang tetap menjalani latihan rutin. Meski pemain yang ada cuma beberap orang tetap latihan, kita bisa liohat mana yang disiplin. Sedangkan gaji pemain sampai bulan Mai sudah kita bayar,” ungkapnya.

Pengurus Baru yang Menghancurkan Persiraja
Sementara itu, Wakil Manejer Persiraja semasa manajemen lama, Sultan Muhammad Rusdy mengatakan, Kwarteh tidak bisa main karena tiba-tiba keluar peraturan baru BLI, tentang pemain asing yang sudah habis masa waktu bermain di Indonesia. “Jadi pemain tersbut harus bermain dulu keluar, baru bisa main lagi di Indonesia. Dan saat itu klub lainnya ada yang mengalami hal serupa,’ jelasnya.

Sebutnya, sedangkan soal pelatih Riono Asnan, pemecatannya sesuai keputusan manajemen berdasarkan permintaan publik. Sesuai ketentuan, panjar kontrak yang sudah dibayarkan kepada yang bersangkutan tidak bisa ditarik lagi. Itu resiko dari pemecatan dari manajemen.

“Rekrutmen pemain dan pelatih telah dilakukan melalui proses kontrak. Sebenarnya masa manajemen lama prestasi dan posisi Persiraja sedang bagus-bagusnya, berada di peringkat 12 saat itu. Tapi begitu dirombak dan dirubah manajemen, langsung prestasi Persiraja anjlok. Jadi yang menghancurkan Persiraja itu hingga posisi terpuruk sekarang ini, pengurus dan manajemen yang sekarang ini,” tuturnya, seraya mengatakan coba tanya dengan para pemain bagaimana semasa manajemen lama.

Sementara itu, dalam mengahadapi Divisi Utama sebelumnya, untuk menciptakan tim Pesiraja yang solid juga dibentuk tim yang diberinama tim sembeilan. Dalam manajemen lama, manejer Persiraja langsung dipegang oleh Razaly Yusuf yang saat itu masih sebagai Penjabat Walikota Banda Aceh.(sud)

DPRK Stop Dana Persiraja

DPRK Stop Dana untuk Persiraja
*Persiraja Diambang Bubar
Banda Aceh – Nasib tim perserikatan Kota Banda Aceh, Pesiraja kini dalam keadaan terpuruk dan berada diujung tanduk untuk mengikuti lanjutan kompetsis sepakbola Liga Sepabola Indonesai Divisi Utama, putaran kedua yang akan digelar Agustus mendatang.

Persiraja yang telah kehabisan dana ini, sampai sekarang sulit dan belum ada kejelasan sumber untuk mendapatkan dana baru sebagai biaya segala keperluan persiapan dan mengikuti putaran kedua.

DPRK Banda Aceh yang sebelumnya telah mensyahkan dana untuk Persiraja sebesar Rp5 milyar dalam APBD 2007, tidak akan menambah dana untuk tim Kota Banda Aceh ini dalam anggaran belanja tambahan (ABT) atau APBD perubahan 2007.

Dewan bersikukuh tidak menambah dana untuk Persiraja dalan ABT. Dana Rp5 milyar dari APBD 2007 merupakan yang terakhir bagi tim tersebut. “Dewan tidak mau menambah dana untuk Persiraja, cukup sebatas Rp5 milyar,” tegas Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Anas Bidin Nyak Syech kepada Dirman Daily menaggapi nasib tim Laskar Rencong itu yang kini terpuruk oleh ketiadaan dana.

Anas Bidin menyatakan, padahal dalam APBD 2007 tidak ada lagi dana untuk Persiraja, karena sudah ada peraturan Mendagri (Permendagri) yaitu dana untuk tim perserikatan dari APBD tidak boleh ada lagi alias dihapuskan, karena pertimbangan daerah masih juga diberikan dana dalam APBD 2007 ini dan kedepan sudah tidak boleh lagi.

Sebenarnya, sebutnya, dana Rp5 Milyar untuk Persiraja tersebut kalau dibuat kantor geuchik sudah banyak yang siap, apalagi sekarang masih banyak kantor geuchik yang menumpang..

“Jadi kita seharusnya lebih mementingkan dana dianggarkan untuk kepentingan masyarakat dan membangun fasilitas yang dibutuhkan publik, untuk Persiraja kalau tidak mampu untuk apa dipaksakan. Apalagi prestasinya jelek, orang yang mengurus dan mengelola dana tidak profesional, bahkan tidak menyadari kalau dana Persiraja itu bersumber dari APBD yang merupakan uang rakyat,”paparnya.

Lagi pula, sebutnya, penggunaan dana Rp5 milyar saja belum ada pertanggungjawabannya oleh pihak pengurus dan manajemen Persiraja. “Apalagi mau minta tambah dana, ya tidak mungkin saja. Dewan tetap konsisten menyetop dana tambahan dari APBD untuk Persiraja,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Persiraja, Syafwan Yusuf mengatakan, Walikota Banda Aceh, selaku Ketua Umum Persiraja telah melayangkan surat permohonan ke DPRK untuk tambahan dana bagi tim Kota Banda Aceh ini.

“Kalau penambahan dana tidak disetujui oleh DPRK, kita tidak tahu harus kemana lagi mendapatkan dana, berarti Persiraja terpaksa tidak ikut lagi putaran kedua dan bubar,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, Persiraja telah menghabiskan dan Rp8,6 milyar, dengan bantuan APBD Rp5 milyar, sekarang Persiraja terhuntang dengan pihak ketiga Rp3,6 milyar lagi.(sud).

Pemko Serahkan Persoalan Persiraja ke BPK

Wednesday, May 9, 2007

Silat Aceh Bertekad Lampui Prestasi PON Lalu

Banda Aceh –Aceh bertekad mempertahankan prestasi pencak silat meraih medali dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII 2008 di Kalimnatan Timur. Bahkan bisa melebih presatsi meraih satu medali emas melalui atlet Maimun pada PON XVII Palembang 2004.

Untuk bisa mengwujudkan impian mempertahankan prestasi tersebut, Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat Indonesia (Pengda IPSI) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sejak tiga bulan lalu telah mempersiapkan 18 pesilat putra-putrinya dalam pemusatan latihan daerah (Pelatda) menghadapi Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera, Agustus mendatang di Medan, yang merupakan ajang prakualifikasi lolos ke PON.

“Kita telah mempersiapkan para atlet selama secara maksimal dalam pelatda yang sudah berlangsung selama tiga bulan. Para pesilat dimengikuti latihan secara keras baik fisik dan tehnik termasuk berlatih tanding, setiap pagi dan sore di GOR KONI Aceh,” jelas pelatih Kepala Pelatda Silat Aceh, M Yunan kepada Dirman Daily kemarin.

Disebutkannya, para atlet yang dipersiapkan merupakan yang terbaik hasil Porda IX di Takengon, Juni tahun lalu. Umumnya pesilat yang dipersiapkan sebelumnya telah memiliki pengalaman tanding di tingkat nasional dan PON, seperti Maimun peraih medali emas di PON lalu.

“Kita bekerja keras mempersiapkan para atlet dalam Pelatda, sehingga pada Porwil nanti di Medan, bisa semuanya meraih prestasi terbaik dan lolos ke PON. Jadi target kita bisa meraih prestasi lolos PON dulu,” jelasnya.

Dengan latihan serius dan penuh semangat dijalani atlet, Ia merasa yakin sebagian besar atletnya bisa lolos PON. “Kita punya tekad besar bisa melampui prestasi meraih satu emas PON lalu di PON XVIII di Kalimantan Timur.

M Yunan mengungkapkan, para atlet yang ditangani empat orang pelatih yaitu Hanafiah Usman, Zulkarnaen, Beni Arito (pelatih nasional) dan dirinya, dapat menjlan seluruh proses latihan selama ini dalam Pelatda. Kita mengharapkan mereka bisa menghasil prestasi terbaik,’ katnya lagi.

Ia menyebutkan, ke-18 atlet yang dipersiapkan dalam Pelatda, masing-masing terdapat 9 atlet putra dan putrid yaitu Maswar (kelas A), Lisnobel (kelas B), Muslem (kelas C), Budi (kelas D), Maimun (kelas F), Sahru Mubarak (kelas F), Elbayus (kelas G), Silver S (kelas H) dan Joko S (kelas H).

Sedangkan sembilan pesilat putri yaitu Siti Z (kelas F), Deli (kelas B), Wita (kelas B), Dewi Yunita (kelas A), Siti Zulikha (kelas E), Vira Rizki (kelas A), Roslina Dewi, Murniati dan Radiah Maulid (nomor khusus seni pncak silat). (sud)

Kasus Kematian Ibu Melahirkan Tetap Terjadi

Banda Aceh –Kasus kematian ibu dan kematian bayi saat proses kelahiran tetap saja terjadi di Kota Banda Aceh. Dalam tahun 2006 ini tercatat 8 ibu meninggal dan 23 bayi meninggal dunia saat melahirkan.

Kasubdin Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Suryati kepada Rakyat Aceh, Kamis ( 3/5) mengatakan, faktor kematian ibu melahirkan lebih disebabkan keterlambatan dalam pemeriksaan saat masa hamil, kerterlambatan keputusan keluarga merujuk tempat bersalin, trasportasi dan pelayanan medis.

Suryati lebih lanjut menjelaskan, akibat faktor tersebut menimbulkan pendarahan berat dan infeksi saat proses melahirkan, sehingga pertolongan medis sudah terlambat menyebakan kematian ibu atau bayi.

Kasus kematian ibu melahirkan dan bayi, umumnya terjadi di daerah –daerah pisisir, hal ini disebabkan selain pengetahuan tentang kesehatan masa hamil, proses persalinan oleh ibu yang melahirkan dan pihak keluaraga di daerah itu, juga ketiadaan dan keterlabatan transportasi untuk merujuk ke tempat persalinan seperti ke rumah sakit, sehingga lambat pertolongan.

Ia mencontohkan suatu kasus kematian ibu melahirkan yang pernah terjadi di suatu daerah pesisir, seorang ibu yang akan melahirkan terlambat dirujuk di rumah sakit. Saat melahirkan terjadi tali pusat melekat tak bisa diputuskan terpaksa dirujuk ke rumah sakit namun terlambat, karena rahim robek terjadilah pendarahan hebat, sehinnga tak tertolong lagi secara medis. Ibu tersebut meninggal dunia.

Diungkapkannya, tingkat angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir tidak bisa diukur perbandingannya tahun ini dengan tahun sebelumnya, karena ada yang tidak semua terdata, sebab ada yang mrujuk tempat swasta yang tidak melapor jika terjadi kasus kematian.

Seperti tahun 2005, sebutnya, angka kematian ibu hampir tidak ada karena NGO juga banyak membantu kesehatan ibu hamil. “Akan tetapi kematian ibu dan bayi baru lahir kita perkirakan tetap saja ada, namun saat itu tidak terdata<’ ujarnya di sela-sela shering pendapat peserta pelatihan advokasi kematian ibu melahirkan dengan anggota DPRK kota Banda Aceh kemarin di gedung dewan.

Katanya, upaya Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh dalam memperkecil angka kematian ibu melahirkan telah membuat program gampong (desa) Siaga ( siap antar jaga) yang sudah dimulai di 17 gampong. “Nantinya diupayakan ada di semua gampong,” katanya.

Gampong Siaga ini membentuk kepedulian masyarakat gampong dalam menangani ibu melahirkan seperti menyiapkan kenderaan (ambulan) sebagai transportasi rujukan, tabungan bersalin (tabulin) dan dana sosial bersalin. “Diharapkan nantinya tidak ada kematian ibu melahirkan,” katanya lagi.

Sementara itu Ketua panitia pelaksana pelatihan advokasi ibu melahirkan, Mukhhlis Japar mengatakan kegiatan ini untuk membangun kepedulian pemerintah, dewan dan masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil dan melahirkan.

Mukhlis yang juga Ketua Komisi D (bidan kesehatan) menyebutkan, dewan tetap memberikan dukungan penuh terhadap kesehatan dengan menyetujui anggaran untuk kebutuhan kesehatan termasuk pelayanan ibu melahirkan di rumah sakit, dalam setiap pembahasan APBD. Dalam APBD 2007 dianggarkan dana sebesar Rp 12 milyar untuk kesehatan.

Sekretaris panitia pelaksana, Drs Hasballah Ajad menjelaskan, kegiatan pelatihan ini diikuti 28 peserta yang umumnya berasal dari organisasi wanita yaitu PKK, APPI, PKBI dan dari unsure Komisi C (bidang pembangunan) dan komisi D (kesehatan).

Hasballah menyebutkan, kegaiatan pelatihan yang berlangsung 1-3 Mai di aula balaikota ini kerjasama Dinkes Banda Aceh dan DPRK yang dibantu oleh NGO dari Amerika Serikat USAID dan HSP.

Sementara itu Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, SE seusai menutup acara pelatihan itu mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh tetap memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan terutama pelayanan terhadap ibu melahirkan di rumah sakit pemerintah.

“Kita harapkan program advokasi ibu melahirkan ini nantinya bisa menunjukkan hasil yang mengimbirakan, sehingga nantinya pelayanan ibu melahirkan akan lebih baik dan tidak ada lagi terjadi kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir,” pintanya.(sud)

Dinas Tata Kota tak Mampu Tertibkan Bangunan

Banda Aceh – DPRK Kota Banda Aceh menilai Dinas Tata Kota dan Pemukiman Kota Banda Aceh sangat lemah dalam upaya melakukan penertiban bangunan yang tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Sehingga banyak bangunan liar karena tidak memiliki izin membangun.

“Pihak aparatur dinas tata kota tidak memiliki ketegasan dan keberanian menghentikan setiap bangunan yang belum memiliki IMB, sehingga banyak berdiri bangunan baru tak memiliki IMB,” ujar seorang anggota DPRK Sultan Muhammad Rusdy kepada Dirman Daily, Kamis (3/5).

Muhammad Rusdy menilai, Kepala Dinas tata kota tidak mampu menertibkan bangunan baru untuk memiliki IMB. Dinas teresebut belum mampu bekerja maksimal dalam penataan dan penertiban pembangunan di Banda Aceh.

Bahkan, sebutnya lagi, bukan hanya tidak mampu dan tidak tegas dalam penertiban bangunan baru yang harus memiliki IMB. Dinas tersebut juga tidak mampu menertibkan dan menindak pihak pihak yang memafaatkan tempat atau sarana umum milik daerah yang dijadikan dan digunakan secara pribadi.

Sebutnya, ada gang dan jalan dijadikan kegiatan tempat usaha seakan menjadi milik pribadi, seperti usaha warung Hendra –Hendri yang memanfatkan gang sebagai jalan untuk tempoat usaha di Jalan Mohd Jam.

“Kita minta supaya Kepala Dinas Ir Buchari diganti saja, karena memang tidak mampu dalam menjalankan fungsi penataan dan penertiban bangunan dalam kota. Sebagai bukti sudah jelas ketidakmampuan kepala dinas tersebut, banyak bangunan yang berdiri tanpa IMB.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRK Kota Banda Aceh, menyebutkan, ketidakmampuan kepala dinas tata kota dalam menertibkan bangunan, ini suatu bukti bahwa penetapan pejabat sebagai kepala-kepala dinas selama ini tidak ada penyegaran.

Artinya, penetapan menjadi kepala dinas selama ini hanya terjadi mutasi pindah tempat dari pejabat di dinas lain ke dinas yang baru. Tidak ada pergantian pejabat baru yang diberikan kesempatan. Sehingga hampir semua kepala dinas tidak memiliki kinerja yang memuaskan.

Pantauan Rakyat Aceh, tiga unit rumah toko di Jalan Taman Makam Pahlawan, Gampong Batoh, yang telah diberikan plang merah (tanda tidak boleh melanjutkan pembangunan) dari Dinas Tata Kota karena belum memiliki IMB, namun pembangunan Ruko itu tetap saja dipacu oleh pemiliknya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Tata Kota Banda Aceh, Ir Buchari kepada wartawan megatakan, setiap bangunan dalam proses pembangunan belum memiliki IMB tlah diberikan tanda plang merah untuk tidak melanjutkan pembangunan sebelum mengurus IMB.

Namun, sebutnya, banyak bangunan tetap saja mlanjutkan pembangunannya bahkan mencabut plang merah. Ini menandakan kesadaran warga masih rendah dalam mengurus IMB sebelum membangun.(sud)

Pemko Diminta Himpun Zakat PNS

Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh diminta harus menghimpun zakat gaji para PNS di jajarannya, karena pembayaran zakat dari gaji PNS selama ini masih sangat rendah.

“Usaha Pemko dalam membangun kesadaran terutama di kalangan PNS belum berjalan. Bahkan penghimpunan zakat juga tidak ada jelas,” ungkap Wakil Ketua DPRK Kota Banda Aceh, Anas Bidin Nyak Syech kepada Dirman Daily, Rabu (2/5).

Disebutkannya, tidak jalannya upaya penghimpunan zakat penghasilan gaji pegawai, ada sejumlah PNS Pemko yang mengaku tidak ada pemotongan langsung gaji untuk pembayaran zakat dan juga tidak ada pengutipan (penghimpunan zakat).

Anas mengatkan, hal itu berarti tidak adanya perhatian Pemko untuk pengumpulan zakat penghasilan pegawai. Apalagi untuk membangun kesadaran masyarakat pentingnya membayar zakat,” katanya.

“Kalau begitu keadaannya, saya perkirakan zakat penghasilan dari PNS dan pejabat tidak terhimpun maksimal, bahkan kemungkinan sedikit yang membayarnya, karena tidak ada upaya dari Pemko untuk menghimpunan.

Apalagi, sebutnya, untuk mengetahui berapa besar jumlah zakat yang terkumpul dari zakat pengghasilan PNS karena tidak ada ekspos tentang itu. Karena perhatian dan upaya Pemko dalam pengumpulan zakat PNS juga tidak jelas.

Ia meminta Walikota Banda Aceh perlu membuat suatu keputusan untuk upaya penghimpunan zakat penghasilan PNS di jajaran Pemko Banda Aceh. “Kita minta walikota perlu mengeluarkan surat keputusan (SK) ke semua dinas, bahwa setiap pegawai langsung dikutip zakat penghasilan gaji atau dipotong langsung lewat gaji,” ujarnya.

“Kalau pembayaran zakat tidak dihimpun dan terserah kepada pegawai membayarnya atau membayar zakat masing-masing ke Baitul Mal, penghimpunan zakat di Banda Aceh tidak akan maksimal. Karena bisa saja PNS bersangkutan lupa dan tidak punya waktu,” katanya.

Disebutkannya, jika penghimpunan zakat penghasilan dari gaji pegawai dilakukan, Pemko harus mengekspos jumlah yang terkumpul, sehingga publik tahu adanya trasparansi dalam pengumpulan zakat. Dan ini memotivasi masyarakat dalam membayar zakat,” ujarnya.

Katanya, pembayaran zakat selain memang diharuskan dalam Agama Islam, selain itu zakat dapat membantu upaya pengetasan kemiskinan dan pembangunan terutama di bidang sosial.(sud)

Semua Pihak Harus Dukung Kegiatan Anak

Banda Aceh – Sebuah foto bisa berbicara seribu kata, sebuah ungkapan itu sudah permanen di kalangan fotografer. Tidak ketinggalan, para anak-anak dari sejumlah dipanti asuhan juga mengabadikan tentang kehidupannya lewat foto.

Sebanyak 60 anak-anak dari sejumlah panti asuhan terlibat dalam pameran foto anak-anak yang digelar, Rabu (2/5) di Meseum Aceh. Sekitar 120 foto tentang kondisi dan keseharian kehidupan anak-anak dipanti asuhan.

“Kita harus memberikan apresiasi terendiri dan mendukung kegiatan pameran foto hasil karya anak-anak panti asuhan, yang memamerkan foto keadaan hidup keseharian di panti asuhan,” ujar Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal kepada wartawan saat mengunjungi pameran tersebut kemarin.

Illiza mengatakan, Pemerintah Kota Banda Aceh tetap manaruh perhatian yang besar terhadap kegiatan anak-anak. Seperti sebelumnya dalam rangka HUT Kota Banda Aceh ke-802 telah mengadakan sejumlah kegiatan untuk anak-anak.

Ditambahkannya, anak-anak mendapat pembinaan yang baik terutama dari ke dua orang tua, masyarakat dan pemerintah, sehingga tumbuh menjadi generasi yang berguna klak bagi masyarakat, bangsa dan agama.

Disebutkannya, kegiatan pameran foto tentan kedan hidup anak-anak dip anti asuhan yang juga karya foto mereka sendiri, menandakan aktivitas dan kreativitas dip anti asuhan anak-anak berjalan dengan baik.

Selain itu, katanya, lewat foto-foto yang dipamerkan itu, akan memberikan gambaran tentang kehidupan anak-anak dipanti asuhan yang dapat menggugah semua pihak untuk memberikan perahtian terhadap panti asuhan.

Humas Pemko Banda Aceh, Mahdi Ibrahim kepada Dirman Daily menyebutkan kegiatan tersebut dilaksanakan juga dalam rangka memeriah HUTKota Banda Aceh. Sebanyak 60 anak dari sejumlah panti asuhan memamerkan karya fotonya sendiri tentang kehidupan dipanti asuhan.

“Kegiatan pameran foto tersebut berlangsung tiga hari. Animo masyarakat terutama dari kalangan pelajar sant tinggi mengunjungi arena pameran foto tersebut,” ujarnya.(sud).

60 Rumah Korban Tsunami Dibuat Asal Jadi

60 Rumah Korban Tsunami di Lamteumen Dibangun Asal Jadi
Banda Aceh –Sebanyak 60 rumah korban tsunami di Dusun Cempaka, Gampong, Lamteumen Timur, Kecamatan Jaya Baru, dibangun asal-asalan, sehingga rumah tersebut tak memenuhi syarat untuk layak huni.

Rumah yang dibangun secara bertahap tahun 2005, bantuan LSM Peduli Bangsa dan sudah setahun lebih ditempati warga, namun kini semua kondisi bangunan rumah tersebut sangat memprihatinkan.

Wakil Ketua DPRK Kota Banda Aceh Mukminan dan anngota dewan lainnya yaitu Surya Mutiara, Farid Nyak Umar ST mendengar langsung penjelasan dan keluhan warga. Bahkan diantara warga sudah mulai enggan menempati rumah, karena sudah tak layak huni.

Semua rumah terlihat yang dindingnya dibuat dari batako terlihat retak bahkan ada yang terbelah. Begitu juga pondasinya dibuat asal jadi, hanya dicor di atas tanah, tidak dibuat pondasi slop yang menggunakan batu gunung seperti ketentuan biasanya membuat pondasi rumah.

Selain itu, rumah yang sudah setahun ditempati itu, juga tidak memiliki plafon. Banguna rumah tersebut sangat memprihatinkan. Warga sangat menyesalkan pembuatan rumah yang asal-asalan tersebut.

“Kita akan melanjutkan laporan warga dan kondisi rumah yang dibangun asal-asalan oleh LSM PB kepada BRR, sehingga bisa diambil tindakan. Kita menyesalkan kontraktor yang tidak sungguh membangun rumah warga,” kata anggota DPRK Banda Aceh, Surya Mutiara Dirman Daily.

Surya menyebutkan, rumah-rumah permanen itu bukan berkualitas sangat jlek, akan tetapi kondisi rumah yang retakretak itu tidak layak untuk dihuni lagi, karena bisa membahayakan.

Kahdi seorang warga, menyebutkan, rumahnya dindingnya sudah ada yang terbelah dan pondasinyapun dibuat asal jadi. Rumah warga lainnya kondisinya sama, sangat jelek. Mereka (kontraktor-red) membuat rumah dengan kualitas paling buruk.

Japar warga lainnya, mengatakan, ada warga yang sudah tidak mau lagi menempati rumah tersebut, karena takut ambruk. Sebab dinding-dinding rumah banyak yang retak.

Rumah saya dindingya retak-retak, lalu pondasinya terbelah terlihat tidak didali lubang saat membuat pondasi. “Kami sangat menyesalkan pmbangunan rumah dilakukan asal-asalan”, ujarnya (sud)

Pemko Belum Berpihak Kepada Buruh

Banda Aceh-Keberpihakan Pemerintah Kota Banda Aceh terhadap nasib buruh dinilai masih rendah. Bahkan kurang serius dalam melakukan pembelaan (advokasi) kepada buruh.

Penilaian itu diutarakan Kepala Bidang Perempuan dan Anak, Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) dan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Banda Aceh, Nurhayati SH RA kepada Rakyat Aceh, Selasa (1/5).

“Banyak sekali kasus-kasus perlakukan yang tidak wajar dan menyedihkan yang dialami para buruh. Ini mengindikasikan masih adanya pelangaran yang dilakukan para pemilik usaha dan pemerintah belum bertindak tegas.

Kasus itu, misalnya buruh yang diharuskan kerja lembur namun gajinya belum tidak ditambah. Kasus lainnya pemutusan hubungan kerja sepihak tanpa alasan yang bisa diterima dilakukan pemilik usaha terhadap buruh (dalam hal ini juga pekerja).

“Satu contoh kasus keputusan sepihak pemutusan hubungan kerja dialami tujuh pekerja perusahaan jasa angkutan dan distribusi, PT Bintang Ekspres di Stui yang terjadi sekitar bulan lalu. Pemilik usaha tersebut mlakukan pemutusan kerja terhadap tujuh pekerjanya tanpa alasan yang bisa diterima,” jelasnya.

Namun, ungkapnya, sampai saat ini pengaduan tujuh pekerja itu ke Dinas Tenaga Kerja Kota Banda Aceh belum ada tindaklanjutnya. Ini mengindikasikan keberpihakan pemerintah belum ada terhadap buruh misalnya melakukan advokasi secara serius.

“Sebagai tanggungjawab moral, kita telah melakukan upaya pembelaan terhadap mereka, dengan menanyakan langsung permasalahan yang dihadapi baik dengan buruh maupun pemilik usaha itu. Namunsetelah pengaduan itu sampai ke Dinas Tenaga sampai sekarang belum ada tindaklanjutnya,” jelasnya.

Sebenarnya, katanya dari kasus upah lembur yang tak dibayar sampai terjadinya pemutusan hubungan kerja sepihak adalah suatu pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang tenaga kerja.

“Kita meminta adanya suatu komitmen tegas dari Pemerintah Kota Banda Aceh dalam membela nasib buruh. Misal menindak pmilik usaha yang menterlantarkan dalam pemberian gaji buruhnya. Tidak memberikan izin usaha jika suatu perusahaan tidak mampu membayar gaji pekerja,” ujarnya.

Di sisi lain ia menjuga menyebutkan, perlakukan tidak wajar dan pelecehan juga terjadi terhadap buruh perempuan dan anak-anak. Sesuai undang-undang nomo 13 Mislanya anak-anak, hanya dibolehkan tiga jam kerja sehari namun gajinya harus dibayar penuh.

“Dengan hari buruh international hari ini, kita harapkan pemerintah lebih berpihak dan membela nasib buruh,” katanya lagi.(sud)

Thursday, April 26, 2007

PAW PPP di DPRK Banda Aceh diusulkan ke Gubernur

Banda Aceh –Calon pengganti antar waktu (PAW) anggota DPRK Banda Aceh, dari Fraksi PPP telah diusulkan ke Gubernur Provinsi NAD untuk diproses dan disyahkan.

Calon PAW yang diusulkan tersebut Drs Muhklis A Karim menggantikan seorang anggota dewan sebelumnya dari Fraksi PPP, Illiza Saaduddin Djamal SE yang kini telah menjadi Wakil Walikota Banda Aceh.

“Melalui Walikota Banda Aceh, calon PAW Drs Muhklis A Karim telah kita kirimkan surat usulan ke gubernur, Selasa (24/4).” ungkap Kepala Bagian Umum, Sekretariat DPRK Banda Aceh, Drs Hasballah Ajad kepada Rakyat Aceh, Kamis (26/4).

Hasballah mengatakan, calon PAW tersebut sudah dilakukan verifikasi oleh pihak KIP Kota Banda Aceh. Berdasarkan verikasi itu, Drs Muhklis A Karim merupakan urutan kedua dalam perolehan suara hasil Pemilu lalu untuk Daerah Pemilihan (DP) Satu Kecamatan Meuraxa dari PPP.

“Calon tersebut yang berhak menggantikan Illiza Saaduddin Djamal anggota dewan sebelumnnya anggota dewan yang kini telah menjadi Wakil Walikota Banda Aceh, hasil Pilkada 11 Desember 2006 lalu,” jelasn0ya.

“Setelah sampai surat hasil verikasi dari KIP Banda Aceh, Selasa (24/4) langsung hari itu juga kita kirim surat pengusulan melalui walikota ke gubernur. Biasanya dalam sepekan sudah selesai proses persetujuan dan pengesahan PAW tersebut. Jadi tidak lama-lama prosesnya.” katanya.

Secara terpisah Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Mukminan mengatakan, saat ini jumlah anggota 29 orang yang seharusnya 30 orang, berarti telah terjadi kekosongan satu orang wakil rakyat di DPRK.

Mukminan menambahkan, kekurangan satu anggota dewan tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama, karena akan merugikan masyarakat. Karena ketiadaan satu orang anggota dewan berarti hilangnya suara rakyat di DPRK dari wilayah pemilihan anggota dewan tersebut.

Selain itu, sebutnya, kekurangan satu anggota dewan akan berdampak tidak optimalnya proses kinerja dewan dalam mengemban aspirasi dan amanah rakyat. “Kalau tidak ada wakil di suatu wilayah pemilhan, berarti tidak ada suara yang bisa diperjuangkan di DPRK,” jelasnya lagi. (sud)

Kerja Lima Hari tak Efektif

Banda Aceh -- Fraksi partai PKS DPRK Kota Banda Aceh meminta Pemerintah Kota setempat untuk meninjau kembali pelaksanaan kerja lima hari yang telah berlangsung hampir setahun untuk kembali ke sistim kerja semula enam hari.

Menurut fraksi ini, penerapan kerja lima hari tidak efektif dan banyak pegawai yang tidak ada kerja. Bahkan yang ada hanya menciptakan anggaran yang besar untuk biaya makan siang pegawai.

”Selama penerapan kerja lima hari, sebagian besar instasi atau dinas, pegawainya menjelang siang tidak ada pekerjaan alias menganggur. Bahkan sebaliknya hanya membesarnya anggaran untuk biaya makan siang pegawai. Jadi kerja lima hari perlu ditinjau ulang,” kata Ketua Fraksi PKS Fakhrurrazi M Noor kepada Rakyat Aceh, Kamis (26/4).

Fakhrurazi menyebutkan, setelah melihat realita di lapangan, ternyata asumsi untuk menerapkan lima hari kerja di Banda Aceh belum terpenuhi, sehingga para aparatur justru lebih banyak menganggur setelah diterapkan lima hari kerja ketimabang kerja enam hari yang diterapkan sebelumnya.

Ditambah lagi, katanya, riskannya mental aparatur terhadap pengaruh lingkungan di luar pekerjaan, sehingga konsentrasi mereka terhadap pekerjaan pokok menjadi terbengkalai, apabila berbenturan dengan pekerjaan lain di luar kantor, Jadi percuma kerja lima hari diterapkan, tidak ada efektifnya.

”Fraksi PKS DPRK Banda Aceh meminta kepada walikota untuk melakukan inisiatif koordinasi dengan pemerintah atasan (Pemerintah Aceh) terkait dengan keefektifan pelaksanaan lima hari kerja, sehingga pola kerja enam hari dalam sepekan dapat dikembalikan seperti semula,” tegasnya.

Disebutkannya, penerapan kerja lima hari juga telah terjadi kesenjangan porsi pekerjaan yang sangat tajam antara golongan pejabat tertentu, terlebih mereka yang langsung berhubungan dengan publik servis, seperti Rumah Sakit dan Lembaga Pendidikan, praktis mereka seperti ’sapi perahan’ sedangkan insentif pekerjaan yang mereka dapatkan sama dengan pegawai di SKPD (satuan kerja pemerintah daerah) lainnya.

Jika ini terjadi, katanya, akan bermuara kepada mandulnya produktivitas dan tidak tercapainya target-target dari program yang telah ditetapkan. Berbagai kasus yang hari ini terjadi masih terbengkalai penyelesainnya menjadi bukti penerapan kerja lima hari tidak efektif.

”Bayangkan berapa besar biaya makan siang pegawai yang ditanggung setiap hari oleh pemerintah, rata-rata Rp12 ribu per pegawai dari seluruh pegawai yang ada. Cukup besar anggaran yang harus dikeluarkan setiap bulan. Namun kerja lima hari juga tidak efektif karena tidak ada pekerjaan. Kalau sudah siang banyak pegawai yang menganggur. Jadi kembali saja pada kerja enan hari, sehingga tidak ada anggaran makan pegawai, dan pemerintah bisa mengirit anggaran,” timpal anggota Fraksi PKS lainnya, Farid Nyak Umar ST.

Kerja lima hari diterapkan semasa Penjabat Gubernur Mustafa Abu Bakar. Ide tersebut dicetuskan karena pejabat tersebut lama bekerja di Jakarta yang menerapkan kerja lima hari. Kerja lima hari yang dimulai di lingkungan Pemprov NAD akahirnya dilaksanakan seluruh kabupaten/kota, termasuk Kota Banda Aceh.(sud)
.

Peran Perempuan Ditingkatkan Dalam Pemrintahan

Banda Aceh -- Peran perempuan dalam pemerintahan Kota Banda Aceh baik dieksekutif maupun di legislatif di masa mendatang akan lebih ditingkatkan lagi.

Hal itu dikatakan Wakil Walikota Banda Aceh Saaduddin Djamal SE kepada wartawan, seusai diskusi gender (kesetaraan wanita) dalam rangka Hut Kota Banda Aceh ke-802 di aula gedung Aceh Comunity Centre (ACC),Sabtu (21/4).

Illiza mengakui, keberadaan dan peranan wanita dalam kancah politik yang terlibat sebagai anggota legislatif masih sangat kecil. begitu juga dalam pemerintahan terutama di Kota Banda Aceh sangat kecil.

"Untuk inilah kita akan berupaya meningkatkan peranan perempuan dalam pembangunan dan pemerintahan. Diantarannya bisa membantu pemerintah dalam memberantas korupsi," ujarnya.

Misalnya,sebutny, dalam konteks pemberantasan korupsi, kaum perempuan dapat berpartisipasi aktif. Minimal dengan cara tidak menuntut kebutuhan-kebutuhan yang tidak sanggup dipenuhi suami. "Bila kaum perempuan mau berpartisipasi, pemberantasan korupsi akan segera terwujud," katanya.

Diakuinya, dalam upaya penguatan peranan perempuan di Aceh masih ada sejumlah kendala yang dihadapi terutama di sektor politik, pertama kurangnya aktualisasi diri kaum perempuan.

Kedua,, lemah dan terbatasnya jaringan kerja, ketiga solidaritas antar sesama perempuan sangat lemah. Dalam kasus Pilkada, Pilpres dan Pemilu legislatif misalnya, banyak kaum perempuan dengan berbagai alasan tidak memilih kandidat perempuan.

Ini semua terlepas, tambahnya, dari adanya sejumlah kelemahan dan kekurangan kandidat perempuan, seharusnya sesama perempuan harus ada semangat solidaritas.

Katanya, dalam upaya penguatan peranan perempuan ada beberapa langkah yang dilakukan yaitu meningkatkan kapasitas SDM perempuan secara internal, mengorganisasikan diri secara baik sampai ke bawah. menumbuhkan kewajiban perempuan, menciptakan jaringan kerja, solidaritas dan rencana aksi perempuan.